Wednesday, 1 July 2015

Petualangan Kecil di Curug Cipendok Banyumas

Hai! Nama saya Linda.

Kali ini saya mau mengajak kalian berpetualang ke salah satu tempat terindah di Kabupaten Banyumas. Ya, Banyumas. Ada yang tahu dimana Banyumas?

Banyumas adalah sebuah daerah yang terletak di kaki gunung Slamet, gunung aktif tertinggi di Jawa Tengah. Tempat dimana saya tinggal ini ternyata menyimpan banyak sekali keindahan alam yang masih tersembunyi dan tidak diketahui oleh banyak orang.

Penasaran? Yuk, mari! Kita jalan-jalan!

***

Kalau mendengar kata 'Banyumas', apa sih yang terlintas pertama kali di pikiran kalian?

Mendoan? Sroto? Gunung Slamet? Baturaden? Atau Bahasa Ngapak? Hehehe
Apapun itu, yang jelas Banyumas selalu istimewa buat saya.


Kompleks peternakan sapi perah di Cilongok. Ada yang bilang ini Banyumas rasa New Zealand.

Salah satu keistimewaan Banyumas terletak pada keindahan alamnya. Kalau boleh syukuran pake bubur merah putih, saya bakal ngasih julukan ‘Negeri Seribu Curug’ untuk Banyumas.
Kenapa? Karena disini banyak sekali curug yang kalau kata Princess Syahrini, bisa bikin mata terbuai manja.

Sebut saja Curug Gede, Curug Bayan, Curug Ceheng, Curug Gemawang, Curug Telu, Curug Kembar, Curug Penganten, Curug Nangga, dan masih banyak lainnya. Oh iya, adakah beberapa diantara kalian yang belum familiar dengan istilah ‘curug’ ?

Apa sih ‘Curug’ itu?

Curug adalah bahasa Sunda untuk air terjun. Jangan ditanya bagaimana proses bahasa yang berasal dari Jawa Barat itu bisa sampai ke tanah orang Ngapak. Yang jelas, jauh sebelum saya lahir, mungkin sejak jaman manusia hidup di era Angling Dharma (baca : era dimana manusia masih pake baju ala kostum film laga), masyarakat setempat sudah menyebut air terjun dengan sebutan 'curug'.

Salah satu curug yang bikin hati saya terpikat adalah Curug Cipendok, curug yang terletak di desa Karangtengah, kecamatan Cilongok, Banyumas.



Dan sepertinya sudah menjadi hukum alam bahwa sesuatu yang indah adalah sesuatu yang tidak mudah didapatkan. Well, perjalanan menuju Curug Cipendok ternyata penuh perjuangan. Pertama, karena lokasinya cukup curam. Kedua, karena jalannya banyak yang berlubang.
Tapi justru disitulah asyiknya sebuah petualangan!

Saya dan teman saya, Thole, memulai perjalanan dari kota Purwokerto selepas Ashar. Setelah mengecek mesin motor dan perbekalan, kami berangkat menuju desa Cilongok. Sekitar dua puluh menit kemudian, kami sampai di desa Panembangan. Cuaca panas kota Purwokerto yang tadinya kami rasakan mendadak berubah sejuk ketika angin pedesaan menerpa kulit tangan dan wajah kami. Meski sedikit kedinginan, hamparan pemandangan sawah, perkebunan, dan hutan membuat kami tersenyum penuh semangat untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Jalan menuju Curug Cipendok, desa Karangtengah

Setengah jam kemudian kami sampai di kawasan wisata Curug Cipendok. Ternyata kawasan ini adalah kawasan hutan konservasi yang bisa dibilang masih ‘perawan’. Hijau dan sangat rimbun!

Sayangnya, kawasan ini kurang populer di kalangan wisatawan. Pengunjung yang datang pun tidak sebanyak pengunjung Baturaden atau Curug Nangga yang sekarang sedang hits diberitakan. Tapi justru disitu sisi positifnya. Saya suka tempat ini. Begitu damai dan tenang. Sebuah kawasan yang bisa dijadikan alternatif pelarian ketika rasa penat datang.

Ngomong-ngomong, saya dan Thole girang banget waktu tahu tiket masuk kawasan ini cuma Rp 7.000 per orang. Ternyata tidak selalu dibutuhkan banyak uang untuk mendapatkan kebahagiaan. Alam memang selalu mengerti orang-orang seperti saya dan Thole. Muka eksekutif muda, dompet mahasiswa. Huehehehe.


Pintu masuk lokawisata Curug Cipendok

Jarak dari pintu loket ke tempat parkir kendaraan ternyata lumayan jauh.
“Lumayan, Mbak. Kurang lebih ya satu kilometer lah!” kata si Bapak penjaga loket pintu masuk dengan logat Ngapak-nya yang khas.
Setelah mendengar pernyataan si Bapak, saya dan Thole malah semakin tertantang untuk trekking menuju Curug Cipendok. Akhirnya kami putuskan untuk memarkir motor di dekat pintu loket dan… berjalan kaki!

Meski butuh sedikit keringat untuk sampai di kawasan parkir, kami tidak menyesal. Tempat ini dan segala keasriannya membuat saya melupakan lelah yang saya rasa.


Sampai di kawasan parkir, kami masih harus mendaki untuk melihat Curug Cipendok. Yap, yap, mendaki ratusan anak tangga yang lumayan bisa bikin betis atletis kalau terus-terusan dilakukan dalam waktu sebulan. Untungnya ini cuma sekali-kali. Fiuh!

Capek? Bangeeet!
Namun pada akhirnya semua rasa capek terbayar ketika kami melihat landsekap yang luar biasa dari atas bukit.


Hi, welcome to Banyumas

Terus, dimana letak curugnya?

Eits, sabar dulu! Kita masih harus menyusuri jalan setapak dan menaiki beberapa anak tangga lagi untuk sampai disana. Ingat, sesuatu yang indah selalu didapatkan melalui perjuangan dan pengorbanan. Masih semangat kan? Suara airnya udah kedengeran lho! Hihihi.


Dan akhirnyaaa...
Setelah menempuh perjalanan (yang agak lumayan terjal) dengan berjalan kaki selama kurang lebih lima belas menit, saya dan Thole berhasil melihat penampakan agung Curug Cipendok. Jauh di luar dugaan, Curug Cipendok ternyata lebih indah dari yang kami bayangkan. Curug dengan ketinggian 95 meter ini memiliki debit air yang sangat deras. Saking derasnya, dalam radius 50 meter pun kami bisa merasakan cipratan airnya. Pesan kami, jangan lupa bawa baju ganti kalau mau main kesini!


Ibarat jomblo lapuk menahun yang tiba-tiba diajak ngedate sama artis Korea.
Iya, kayak gitu deh kira-kira gambaran perasaan kami berdua.
Bahagia.

Curug Cipendok adalah curug paling ‘hijau’ yang pernah saya kunjungi diantara curug-curug lainnya. Saya benar-benar terpukau melihat pepohonan liar yang tumbuh dan membentuk hutan rimbun di sekitar kawasan curug ini. Untuk beberapa saat, saya sempat merasa terbawa ke dalam cerita dongeng jaman dahulu. It’s too good to be true.


Sekedar informasi, kata Bapak penjaga loket yang kami wawancarai sebelum masuk, di kawasan Curug Cipendok ini masih ada binatang liar yang tak jarang menampakkan diri. Kalau beruntung, wisatawan yang datang bisa melihat penampakan kera berdada abu-abu yang langka. Lebih beruntung lagi kalau wisatawan bisa melihat penampakan harimau Jawa liar yang memang masih ada di kawasan hutan Curug Cipendok.

"Hyaaaaa…Si Bapak! Kalo yang satu itu mah bukan beruntung, tapi serem keleeeusss" batin saya dalam hati.

Setelah puas menikmati suasana Curug Cipendok, saya dan Thole memutuskan untuk pulang karena hari sudah menjelang malam. Sayang sekali, di tengah jalan kami menemukan ini.


Yap, sebuah coretan yang dilakukan oleh tangan jahil manusia

Miris rasanya. Di jaman merdeka seperti sekarang masih saja ada orang-orang yang minim rasa peduli terhadap lingkungan. Tidakkah mereka tahu? Merusak lingkungan sama halnya melukai perasaan orang-orang yang ingin menikmati alam.

Kita seharusnya mengerti bahwa alam adalah anugerah yang semestinya kita jaga, bukan kita rusak atau kita kotori dengan aksi corat-coret sembarangan hanya demi kesenangan. Menjaga kelestarian adalah wujud rasa syukur yang wajib kita terapkan.

“Ketika kamu berada di alam, ingatlah untuk tidak mengambil apapun kecuali gambar, tidak meninggalkan apapun kecuali jejak, dan tidak membunuh apapun kecuali waktu”

Oh iya, jika kalian ingin berkunjung ke Curug Cipendok atau tempat wisata lain di Banyumas, jangan sungkan untuk menghubungi kami. Mari jelajah alam bersama! Kami tunggu kedatangan kalian disini!

Baiklah, sekian untuk cerita petualangan kecil hari ini. Sampai jumpa di petualangan kecil selanjutnya!


Salam hangat dari kami, Gyu Jun Pyoo dan Geum Jan Di.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 1 Juni - 4 Juli 2015 dengan tema Cinta (Wisata) Jawa Tengah


Cilacap, Juli 2015

14 comments:

  1. Replies
    1. thank you, alien from outer space hahaha

      Delete
  2. aku udah pernah kesini tahun lalu loh.. masih sepi dan ga serame sekarang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kah? Tahun ini juga masih sepi. Adem rasanya kalo kesana

      Delete
    2. Iya kah? Tahun ini juga masih sepi. Adem rasanya kalo kesana

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  3. ituh beneran kepo sayah yang poto pertama, cilongoknya pake naik tanjakan gak kalau yang ada sapi-sapi, dingin banget ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, As! Peternakan sapi yang di Cilongok ini jalurnya searah sama jalur curug Cipendok kok. Kalo penasaran, kapan-kapan trekking bareng yok! Nanti aku tunjukkin jalannya :)

      Delete
  4. Waaaa jadi pengen ke Cilongok yang katanya Banyumas rasa New Zealand itu haha, gelar kain piknik kotak-kotak lesehan di rumput sambil liburan ala2 gitu seru kali ya hehe

    *lalu diseruduk sapi*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru bangeeet! Tenang, sapinya nggak nyeruduk kok hehehe

      Delete
  5. Eh lucu banget itu sapi-sapinyaaaa, jadi pengin ke sana.

    Omong-omong, kalian pacaran ya? *eh*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yakin lucu sapinya? Orangnya ngga lucu? Hahaha

      Delete
  6. Kalo ke yang sapi2 itu lewat mana si? Kok aku baca blog lain ga boleh sembarang orang masuk yaa.. Hehe :D salam kenal yaaa

    ReplyDelete
  7. Nambah juga mba, ada Curug Gomblang dan Curug Lima, lokasinya di Kalisalak, Kecamatan Kedungbanteng, besebelahan sama cilongok

    ReplyDelete